Sunday, February 12, 2012

CERPEN

Halloooo! :D
Kali ini gue mau berbagi...hmm..apa yah...cerita? Oke, gue mau berbagi cerita buat kalian. Kemaren gue dikasih tugas sama guru Bahasa Indonesia gue buat bikin cerpen pengalaman pribadi. Tetapi berhubung gue agak susah nyeritain pengalaman pribadi, akhirnya gue ngarang aja.. Secara kan gue jago boong ngarang muehehehe
Tadinya gue mau copas dari google, tapi cerpennya gak ada yang pas. Nah, ditengah ke-frustasian gue itu, sekitar jam 10 malem, gue dapet wangsit buat ngarang sendiri. Gak tau kenapa kayaknya itu kata-kata udah nari-nari aja di otak gue. Akhirnya jam 11 pun selesai dan langsung gue print. Gue juga bingung kenapa cepet amat selesainya hehehe
Mau liat? Mau banget? Banget doang apa banget banget? muahahaha :P
Oke deh nih gue kasi liaat~ ini gak bagus sih. Sederhana banget malah konfliknya. But, I'm still learning, guys :)


SAHABAT SEJATI

Aku mempunyai seorang sahabat, namanya Tasya. Dia sahabatku sejak aku kecil. Kami sangat akrab dan sering sekali bermain bersama. Aku tidak tahu mengapa aku bisa sangat akrab dengan Tasya. Padahal sifat kami sangat bertolak belakang. Aku yang selalu usil, tidak bisa diam, dan banyak bicara, sedangkan Tasya sangat kalem, pendiam, dan sopan.
Pertemanan kami dimulai sejak kami duduk di bangku Sekolah Dasar. Tadinya aku malas bermain dengannya, karena dia anak yang pendiam. Tetapi aku mulai menyukainya, sejak kejadian itu. Waktu itu aku terlambat datang ke sekolah dan kebetulan lupa mengerjakan PR. Guruku menghukumku untuk memunguti sampah dihalaman sekolah yang sangat luas itu. Saat itu kebetulan sedang musim kemarau, jadi cuaca sangat panas. Mau tidak mau aku harus memunguti sampah ditengah cuaca yang sangat panas itu. Saat jam istirahat, semua siswa keluar kelas untuk jajan dikantin, atau sekedar main dilapangan. Teman-teman yang melihatku dihukum mentertawakanku. Aku kesal sekali.

“Huh, coba kalian yang menjadi aku, pasti kalian sebal kan kalau ditertawakan!”  kataku dalam hati.
Tetapi tidak dengan Tasya. Dia tidak mentertawakanku. Sebaliknya, dia malah datang ke arahku dan menyodorkan seplastik minuman dingin.

“Ini buat kamu. Kamu pasti haus dan kepanasan, kan? Aku bantuin yah biar cepat selesai.” Kata Tasya sambil tersenyum tulus.
Aku tertegun. Aku mengangguk dan menerima minuman pemberiannya.

“Iya, terima kasih ya. Kamu gak usah bantuin aku lama-lama yah. Nanti kamu kecapekan.” Kataku sambil tersenyum lebar.

Tasya hanya membalasnya dengan sebuah anggukan disertai senyuman manisnya. Aku sangat terharu. Walaupun kami tidak terlalu akrab dikelas, tetapi dia mau membantuku. Kami pun memunguti sampah bersama-sama. Selagi memunguti sampah aku sering bercanda dengannya. Aku tidak tahu walaupun dia pendiam, tetapi dia sangat humoris. Tak terasa hukuman itu pun selesai. Dari sinilah kami mulai akrab.

Sampai kami lulus SD kami masih bersahabat. Jarang sekali kami bertengkar. Bahkan tidak pernah. Kalau aku sih sering marah padanya. Tetapi Tasya yang baik hati dan sangat pengertian selalu meluluhkan hatiku dan tidak marah lagi kepadanya.

Aku masuk SMP yang berbeda dengan Tasya. Tetapi kami masih sangat sering bertemu karena rumah kami memang jaraknya cukup dekat. Kami seperti sepasang sahabat yang tidak pernah terpisahkan. Kalau sudah pulang sekolah aku sering sekali main kerumah Tasya, atau Tasya yang ke rumahku. Tetapi kami juga sering pergi ke mall atau main di taman dekat rumah kami bersama-sama.

Kami terus bersahabat sampai kami SMA. Tidak terasa persahabatan kami sudah berjalan 10 tahun. Dan kami sepakat untuk merayakan persahabatan kami hari Minggu depan di sebuah kafe favorit kami.

Aku tidak sadar bahwa hari perayaan persahabatan aku dengan Tasya itu sama dengan hari aku janji jalan-jalan bersama teman SMA ku. Aku bingung mau memilih ikut merayakan hari persahabatanku dengan Tasya atau ikut jalan-jalan bersama teman SMA ku. Tadinya aku mau membatalkan janji jalan-jalan bersama teman SMA ku. Tetapi begitu aku tahu aku akan ditraktir karena temanku itu ulang tahun, aku akhirnya berniat berbohong kepada Tasya agar tidak usah ikut merayakan hari persahabatan kami.

Pada hari Minggu itu, Tasya SMS aku, menanyai apakah sudah siap atau belum. Aku bingung mau menjawab apa. Akhirnya aku berbohong kepadanya.

Maaf ya, Sya. Badanku panas. Rasanya aku flu. Bagaimana kalau Minggu depan saja kita merayakan hari persahabatan kita?”

Itulah balasan SMS ku ke Tasya. Aku sungguh gugup. Bagaimanapun, walaupun aku sering menjahili teman, tapi ini pertama kalinya aku bohong kepada Tasya. Aku tidak mau dia marah karena membatalkan perayaan persahabatan kami hanya karena aku tergiur oleh traktiran teman SMA ku.
Tidak lama Tasya membalas sms ku.

“Kamu sakit dari kapan? Iya gak apa-apa. Cepat sembuh yaa.”

Aku lega sekali Tasya mempercayai alasanku. Lalu aku pun pergi bersama teman SMA ku ke sebuah mall. Tidak lupa, aku pamit kepada ibu ku dan bilang bahwa aku pergi bersama teman untuk merayakan ulang tahunnya.

Aku sangat terkejut saat aku pulang ternyata Tasya ada didepan rumahku. Aku sangat takut ia akan marah. Tetapi meleset jauh dari dugaanku. Tasya tersenyum ramah kepadaku dan berkata, “Tadi aku kerumah kamu mau merayakan hari persahabatan kita bersama dirumahmu karena aku kasihan kamu sakit. Tetapi Mama kamu bilang kamu pergi. Kamu kenapa gak jujur saja kalau mau merayakan ulang tahun teman mu? Kenapa harus membohongi ku? Aku tidak akan marah kalau kamu jujur, Dheya.” Katanya masih dengan senyum manisnya itu.

Aku tertegun. Tidak mampu berkata-kata. Aku hanya menunduk dan menahan air mata yang sudah tak terbendung ini.

Tasya memegang pundakku. Aku memarahi diriku dalam hati. Mungkin kalau aku yang menjadi Tasya, aku akan sangat marah dibohongi seperti ini. Tetapi Tasya? Tasya hanya tersenyum dan memakluminya. Ya, mungkin aku orang paling bodoh di dunia. Aku punya seorang sahabat yang sangat baik dan pengertian, tetapi aku malah membohonginya. Aku sangat menyesal. Akhirnya aku berhasil mengumpulkan kekuatan untuk meminta maaf kepadanya, “Maaf ya, Sya. Aku ingin ikut merayakan ulang tahun temanku itu, tapi aku takut kamu marah kalau aku bilang jujur kepadamu. Aku takut kamu mengira aku lebih memilih teman baruku di SMA dibanding kamu. Sungguh bukan begitu maksudku. Aku hanya tidak enak menolak undangan temanku itu. Aku sangat menyesal. Sungguh, ini kebohongan pertama dan terakhirku padamu, Tasya.” Kataku masih dengan sedikit menangis.

Tasya tersenyum. Dia hanya tersenyum lembut. Senyum yang penuh arti. Senyum ikhlas yang memaafkan perbuatan bodohku tadi. Senyum maklum akan kebohonganku padanya. Senyum yang sangat berarti bagiku. Senyum yang membuatku semakin merasa bersalah.

“Mungkin ini cobaan di hari persahabatan kita. Kamu jangan nangis terus. Aku bangga aku bisa setegar ini memaafkan kamu, dan kamu juga harus bangga bisa berani mengakui kesalahanmu dan meminta maaf kepadaku. Kita sama-sama belajar satu hal yang penting.” Kata Tasya sambil tersenyum.

Aku tahu Tasya adalah orang yang sangat pengertian dan pemaaf. Tapi aku juga tahu sekali Tasya adalah orang yang sangat benci kebohongan.

Sekarang aku mengerti arti persahabatan. Persahabatan bukanlah orang-orang yang memiliki banyak persamaan, tetapi justru orang-orang yang berbeda jauh. Karena disetiap perbedaan dan kelemahan kita, Tuhan memberikan anugrah kepada kita. Yaitu seorang sahabat yang akan melengkapi dan menutupi kekurangan dan perbedaan kita. Sahabat yang akan selalu ada disamping kita disaat kita memerlukan sandaran. Sahabat yang selalu menghibur kita ketika kita merasa lelah dan suntuk. Sahabat yang selalu membuat sebuah senyum yang menghiasi wajah kita, dan membuat tangis disaat dia juga menangis.

Sahabat sejati adalah orang yang memberi warna berbeda dalam hidup kita. Menyatukan hitam dan putih kehidupan menjadi sebuah spektrum abu-abu.

Dan sahabatku, adalah kamu J


Bukan mau pamer, cuma ngeshare aja.. Lagian menurut gue ini gak bagus kok, jadi gak pantes buat dipamerin hehehe kalo ada yang mau ngasih saran boleh kok. Malah gue ngarepin banget dikasih saran :)

4 comments:

gak comment, gak gaul! :D