Tuesday, May 22, 2012

"BERLARI" Mengejar Mimpi

Berlari.
Mungkin itu sesuatu yang mustahil bagiku. Bukan karena aku terlalu malas bergerak, tetapi memang aku tidak pernah bisa merasakan kakiku bergerak.

Ya, aku terlahir cacat tanpa kaki.

Aku tidak pernah tau rasanya menerjang angin saat berlari kencang. Aku tidak pernah tau rasa menggelitik di telapak kakiku. Aku tidak pernah tau rasanya berjalan. Aku tidak pernah tau rasanya berdiri tanpa bantuan alat. Aku tidak pernah tau rasanya menjadi normal.
Aku tidak pernah mempunyai teman. Mereka menganggapku tidak layak, dan menjijikan. Padahal aku tidak mengerti kenapa aku dianggap menjijikan, sebenarnya kita semua sama. Hanya sedikit perbedaan fisik. Tetapi orang lain yang normal selalu saja memandangku seakan aku makhluk langka dari planet luar angkasa. Memandangku dengan tatapan asing dan dingin.
Sebenarnya aku ingin menyerah sejak dulu. Sejak saat pertama kali sekolah di sekolah biasa, saat semua orang mengejek dan menghinaku. Menyerah kepada Tuhan yang berkuasa atas segala hal di bumi ini.

Tetapi ketika melihat mereka, keluargaku, seakan ada dorongan di dalam diriku untuk membalas setiap senti kasih sayang yang mereka berikan. Mereka tidak seperti orang kebanyakan yang menganggapku tidak se-level dengan mereka. Mereka seperti malaikat tak bersayap yang dikirimkan Tuhan khusus untukku. Mereka yang selalu mengembalikan semua senyumku yang hilang. Mereka yang setia menjaga dan merawatku dengan ikhlas. Mereka yang selalu menjadi matahari dalam siangku, dan menjadi bintang dalam malamku.
Karena keluargaku lah aku masih mampu bertahan sampai sekarang. Dan selalu berusaha membuat mereka merasa bangga atas diriku. Aku ingin membuktikan kepada semua orang, bahwa aku bukanlah makhluk tidak berguna yang diciptakan hanya untuk menjadi badut. Aku yakin, Tuhan menciptakanku untuk sebuah alasan. Untuk menunjukkan kepada mereka semua, bahwa keterbatasan tidak membatasiku dalam bergerak. Aku tidak ingin hidupku menjadi sia-sia.

Mungkin aku tidak bisa berjalan, berlari, bermain sepeda, mengendarai motor atau mobil, dan hal-hal lain yang harus dilakukan dengan kaki. Tetapi masih banyak hal yang bisa kulakukan hanya dengan kedua tangan dan segala hal yang aku punya.
Setidaknya, aku masih bisa berlari dalam mimpiku. Mengejar setiap cahaya yang ada, dan menggapainya. Berjalan dalam proses menuju puncak dari segala usahaku.

Sekarang semua hal telah berubah. Sekarang semua orang tidak lagi menganggapku makhluk menjijikan yang tidak berguna. Mereka malah mengagumiku sebagai salah satu tokoh penting yang berpengaruh terhadap lingkungan.
Sejak tau rasanya dihina sebagai orang cacat, aku tidak ingin ada orang lain yang sama sepertiku merasakan hinaan itu. Aku yakin, setiap kekurangan yang kita punya, disitu ada sebuah kelebihan.
Saat menginjak usia dewasa aku mulai sadar, kalau hanya bermimpi, aku tidak akan pernah terbangun dan merasakan betapa nyata mimpi itu. Maka mulai saat itu aku mencari orang-orang yang senasib denganku, dan mengajak mereka bangkit dari keterbatasan.
Dan sekarang, aku mulai hidup dalam mimpiku. Sebuah perusahaan telah kubangun dengan pekerja-pekerja yang juga cacat sepertiku. Tetapi inilah buktinya, kami masih berguna dan bisa melakukan sesuatu.

Saat ini, keluargaku semakin bangga kepadaku, dan orang-orang yang selalu memandangku sebelah mata, kini mulai menganggapku ada di dunia ini dan menjadi bagian dari mereka.

Aku sadar, di dalam setiap kegelapan, disitu akan ada setitik cahaya yang akan menuntunku menuju sebuah tempat yang dinamakan mimpi.
Ternyata berlari dalam mimpi lebih sulit daripada berlari dalam kehidupan nyata.

Karena dalam hidup tidak selalu hitam atau pun putih.



-dheyaanggita-

5 comments:

  1. Aduuuuh menyentuh ceritanya dheya..

    coba di ikutin kesini deh..

    http://lets-writeyourdream.blogspot.com/2012/05/ga-wajah-pendidikan-indonesia.html#comment-form

    ReplyDelete
    Replies
    1. aduh, aku suka gak pede buat ikutan lomba-lomba gini ._. *ciut* hehehe

      Delete
    2. Coba aja dulu masih lama ini waktunya,.,, itung-itung biar tau kualitas tulisan kita sampai mana..

      Delete

gak comment, gak gaul! :D